• Call: +62
  • E-mail: sahita.institute@hints.id
Sahita Institure
  • Home
  • About Us
  • Campaign
    • Trade Justice
    • Digital Justice
    • Energy Transtition
  • Collective Idea
    • Visual Movement
    • Article
  • News
  • Publication
No Result
View All Result
Sahita Institute
No Result
View All Result

BRICS Jangan Ulangi Model Pembangunan Berbasis Pertumbuhan Semata yang Mengeksploitasi Pekerja

“Kerja Sama Selatan-Selatan Harus Menjamin Hak Pekerja dan Mendorong Transformasi Ekonomi yang dapat Menciptakan Pekerjaan Layak”

July 20, 2026
in Collective Idea, Publication
Home Collective Idea
Share on FacebookShare on Twitter

Siaran Bersama
Jakarta, 17 Juli 2026
– Masyarakat sipil yang terdiri atas International NGO Forum on Indonesian Development (INFID), Transnational Institute (TNI), Perkumpulan PRAKARSA, Publish What You Pay (PWYP) Indonesia, dan Sahita Institute menilai Deklarasi Pertemuan Menteri Ketenagakerjaan BRICS 2026 gagal menjawab persoalan paling mendasar yang dihadapi dunia kerja saat ini: bagaimana memastikan transformasi ekonomi menghasilkan pekerjaan yang layak (decent work), melindungi hak-hak pekerja, tidak adanya praktek kekerasan berbasis gender di rantai pasok produksi, dan mengurangi kemiskinan dan ketimpangan, bukan sekadar meningkatkan produktivitas dan daya saing ekonomi.

Deklarasi dihasilkan dari pertemuan Menteri Ketenagakerjaan Negara-negara anggota BRICS[1] yang ke-12 yang berlangsung di Hyderabad, India tanggal 15 Juli 2026. Deklarasi menempatkan perluasan perlindungan sosial, formalisasi pasar kerja, peningkatan partisipasi perempuan, pengembangan keterampilan, dan transformasi digital sebagai agenda utama kerja sama ketenagakerjaan, namun belum diimbangi dengan komitmen yang lebih kuat terhadap perlindungan hak-hak pekerja.

Pertemuan tersebut berlangsung di tengah perlambatan ekonomi global akibat gejolak politik global, disrupsi teknologi, krisis energi, dan lemahnya mata uang terhadap US Dollar di berbagai negara termasuk Indonesia. Sebagai blok negara-negara yang mewakili lebih dari 40% populasi dunia dan sekitar sepertiga perekonomian global, BRICS harus memiliki komitmen kuat untuk tranformasi sistem perekonomian yang menciptakan lapangan kerja layak, sekaligus memastikan perlindungan hak-hak pekerjanya.

“BRICS tidak boleh hanya menjadi blok ekonomi baru yang mengejar pertumbuhan dengan pembahasan teknokratis semata. BRICS harus menjadi kekuatan alternatif yang menunjukkan bahwa pembangunan dapat berjalan seiring dengan penghormatan terhadap hak pekerja, pengurangan ketimpangan, dan keadilan sosial,” ujar Siti Khoirun Ni’mah, Direktur Eksekutif INFID.

Minimnya komitmen terhadap pemenuhan hak pekerja

Masyarakat sipil mengapresiasi komitmen BRICS untuk memperluas perlindungan sosial, meningkatkan partisipasi perempuan dalam dunia kerja, dan memperkuat pengembangan keterampilan. Namun, komitmen pengembangan keterampilan tersebut harus disertai upaya mengatasi kesenjangan kesiapan skills yang nyata, salah satunya green skill atau keahlian dalam mengambangkan industri hijau yang berkelanjutan khususnya di Indonesia.

Pemetaan kebutuhan keterampilan masa depan yang diusulkan Indonesia dalam pertemuan BRICS perlu diikuti dengan strategi reskilling yang inklusif dan tepat sasaran. Saat ini, kurikulum pendidikan vokasi Indonesia masih didominasi oleh logika ekonomi ekstraktif konvensional. Data menunjukkan hanya 3,1% jurusan Sekolah Menengah Kerjuruan (SMK) yang relevan dengan sektor energi, dan kurang dari 1% yang spesifik untuk energi baru terbarukan. Tanpa intervensi serius, transisi hijau yang saat ini menjadi agenda penting menuju energi bersih terbarukan berisiko meninggalkan jutaan pekerja tambang dan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) dalam ketidakpastian serta menciptakan pengangguran struktural di daerah penghasil sumber daya alam.

Oleh karena itu, transisi energi harus berkeadilan, bukan sekadar penggantian teknologi fosil dengan terbarukan dan harus memastikan akses reskilling yang setara bagi pekerja existing serta kelompok rentan di wilayah terdampak.

Selain itu, deklarasi tersebut belum memberikan komitmen yang tegas mengenai perlindungan hak-hak pekerja termasuk pekerja di sektor energi, kebebasan berserikat, perundingan bersama, upah layak, perlindungan pekerja, maupun mekanisme akuntabilitas pelaku usaha yang mengikat.


Kerja Sama Selatan-Selatan Menghasilkan Keadilan, Bukan Perlombaan Upah Murah

Masyarakat sipil menegaskan bahwa kerja sama Selatan-Selatan tidak boleh berhenti pada pertukaran teknologi, investasi, atau peningkatan daya saing industri. Sebaliknya, kerja sama tersebut harus diarahkan untuk membangun standar pembangunan yang berbeda dari model ekonomi global yang selama ini bertumpu pada upah murah, fleksibilisasi tenaga kerja, dan eksploitasi sumber daya alam. Kerjasama tersebut juga memastikan adanya mekanisme perlindungan bagi pemenuhan hak pekerja, sehingga terjadi akuntabilitas di sektor bisnis.

Negara-negara BRICS memiliki kesempatan membangun agenda bersama untuk: memperluas perlindungan sosial universal; memperkuat dialog sosial antara pemerintah, pekerja, dan pelaku usaha; meningkatkan standar ketenagakerjaan kawasan; mendorong pembiayaan negara bagi penciptaan pekerjaan layak; serta memastikan manfaat pembangunan dinikmati secara adil oleh seluruh masyarakat.

Oleh karena itu, solidaritas Kerjasama selatan harus diukur dari keberhasilannya melindungi manusia, bukan hanya meningkatkan investasi.


Industrialisasi Hijau Harus Menciptakan Pekerjaan Layak, Bukan Sekadar Meningkatkan Ekspor

Sebagai negara dengan cadangan mineral strategis terbesar di dunia, Indonesia memiliki peluang besar memanfaatkan keanggotaannya di BRICS untuk membangun kebijakan industrial hijau yang mampu menciptakan jutaan pekerjaan berkualitas. ILO memperkirakan transisi menuju ekonomi hijau berpotensi menciptakan 24 juta pekerjaan baru secara global pada 2030 apabila didukung kebijakan yang tepat. Sebaliknya, tanpa transisi yang adil, perubahan iklim diperkirakan menghilangkan jutaan pekerjaan terutama di sektor pertanian dan perikanan, dan memperburuk kerentanan pekerja. Namun, kesenjangan kapasitas industri di antara negara-negara BRICS sangatlah nyata, khususnya dalam penguasaan teknologi.

Rachmi Hertanti, Peneliti Transnational Institute, menilai Kerjasama BRICS dalam agenda transisi energi tidak otomatis menghasilkan kesejahteraan dan keadilan Pembangunan apabila hanya kembali memperkuat ketergantungan ekspor ekstraktif tanpa adanya kerjasama inklusif dalam penciptaan nilai tambah produksi domestik di negara-negara global south secara aktif. Penciptaan lapangan kerja formal dan layak berdasarkan prinsip-prinsip keberlanjutan, kesetaraan, dan keadilan adalah kunci dari transisi energi berkeadilan. Tanpa mekanisme yang menjamin keadilan dalam transfer teknologi, akses pasar, dan pembagian nilai tambah, kerja sama Selatan-Selatan berisiko menjadi replikasi dari hubungan Utara-Selatan yang tidak setara.

“Jika kerja sama BRICS tetap mempertahankan pola mengekstraksi sumber daya alam negara berkembang – mulai dari litium, kobalt, hingga mineral kritis lainnya – tanpa transfer teknologi yang berarti dan tanpa penciptaan lapangan kerja industrial yang berkualitas, maka kerja sama Selatan-Selatan BRICS justru akan melanggengkan apa yang disebut sebagai “green extractivism”. BRICS yang seharusnya dapat menjadi kekuatan Kerjasama Selatan-selatan hanya akan kembali menjadi ruang eksploitasi sumber daya hijau untuk kepentingan konsumsi dan industri negara-negara maju atau negara BRICS yang lebih kuat”, Tegas Rachmi.

“Meskipun begitu, keberhasilan hilirisasi misalnya tidak boleh hanya diukur dari nilai ekspor atau investasi yang masuk. Bukti di lapangan, seperti di kawasan tambang timah Bangka Belitung, menunjukkan bahwa mineral kritis yang menjadi penopang transisi energi dunia justru memicu praktik ekstraktivisme hijau, dimana risiko keselamatan dan beban sosial dieksternalisasi kepada pekerja dan masyarakat lokal tanpa standar K3 dan jaminan sosial yang memadai”, ujar Victoria Fanggidae, Direktur Eksekutif The PRAKARSA

Pengalaman hilirisasi nikel Indonesia justru menunjukkan risiko bahwa industrialisasi yang “diklaim” mendukung transisi hijau justru memperlihatkan paradoks yang perlu diwaspadai. Meskipun Indonesia memasok dua pertiga bijih nikel dunia, ekspansi industri ini justru kerap menempatkan komunitas dan pekerja lokal sebagai penanggung beban terbesar, mulai dari deforestasi massal hingga polusi dan risiko keselamatan kerja. Hilirisasi tidak boleh hanya menjadi etalase transisi energi global, melainkan harus menjadi instrumen transformasi yang sungguh-sungguh berpihak pada rakyat.

“Ikuti aliran uangnya, dan kita akan tahu siapa yang meraup untung dari hilirisasi ini. Ikuti aliran keputusannya, dan kita akan tahu siapa yang sejatinya duduk di meja.” ungkap Aryanto Nugroho, Koordinator PWYP Indonesia.

Oleh karena itu, upaya industrialisasi yang dikaitkan dengan transformasi ekonomi hijau, khususnya di sektor mineral kritis dan hilirisasi, harus tetap memastikan agar tidak mengulangi pola ekstraktivisme lama. Hal ini dapat dilakukan melalui penerapan transparansi dari hulu hingga hilir, pengungkapan beneficial ownership, serta pengakuan masyarakat dan pekerja sebagai pemegang hak (rights-holders), bukan sekadar pemangku kepentingan.


Pentingnya Indonesia Mendorong Agenda Pekerjaan Layak di BRICS

Sebagai anggota BRICS, Indonesia memiliki peluang strategis untuk mendorong agenda pembangunan yang lebih inklusif. Untuk itu, pemerintah Indonesia agar menggunakan forum BRICS untuk memperjuangkan:

  1. Standar perlindungan pekerja layak, termasuk pekerja di sektor energi, yang sejalan dengan hak-hak pekerja seperti upah layah, penghausasn kekerasan berbasis gender, hak berserikat maupun berkumpul.
  2. Kerja sama Selatan-Selatan yang memperkuat perlindungan sosial universal, bukan sekadar meningkatkan arus investasi.
  3. Kebijakan industrial hijau yang berorientasi pada penciptaan pekerjaan layak dan transformasi ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.
  4. Mekanisme akuntabilitas bersama agar komitmen ketenagakerjaan BRICS tidak berhenti sebagai deklarasi politik, tetapi menjadi kebijakan yang dapat diukur dan diawasi implementasinya.

“BRICS akan kehilangan relevansinya apabila hanya menjadi forum ekonomi baru dengan pola pembangunan lama. Sementara Masyarakat dunia saat ini membutuhkan kerja sama yang menempatkan manusia, hak-hak pekerja, dan keadilan sosial sebagai pusat transformasi ekonomi”, tutup Siti Khoirun Ni’mah.

Jakarta, 18 Juli 2026
Kontak Media: Siti Khoirun Ni’mah, Snimah@infid.org
Organisasi yang tergabung:

  1. International NGO Forum on Indonesian Development (INFID)
  2. Transnational Institute (TNI)
  3. Perkumpulan PRAKARSA
  4. Publish What You Pay (PWYP) Indonesia
  5. Sahita Institute
[1] BRICS singkatan dari Brazil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan. Saat ini terdapat 11 negara, termasuk Indonesia yang menjadi anggota BRICS. Tahun ini India menjadi Ketua BRICS yang mengangkat tema Building for Resilience, Innovation, Cooperation and Sustainability.

 

Tags: BRICS2026HakPekerjahintsIndonesiaDiBRICSIndustrialisasiHijauKeadilanSosialPekerjaanLayakTransisiEnergiBerkeadilan
Previous Post

Apakah DEFA akan menjadi game-changer bagi ekonomi digital ASEAN?

Next Post

Investor-State Dispute Settlement (ISDS)

admin_hints

admin_hints

Discussion about this post

Follow Us

  • Perdagangan global bukan cuma soal ekspor, impor, atau angka pertumbuhan ekonomi. Ada kepentingan besar, perebutan pengaruh, dan relasi kuasa yang ikut menentukan siapa yang diuntungkan dan siapa yang berisiko tertinggal.

Lewat dialog publik “Perdagangan Bebas di Persimpangan Jalan: Kebangkitan Nasionalisme Ekonomi dan Masa Depan WTO”, kita diajak melihat lebih kritis arah perdagangan dunia di tengah rivalitas negara-negara besar dan menguatnya proteksionisme.

#PerdaganganBebas #WTO #KeadilanEkonomi #KedaulatanEkonomi #RuangKebijakan
  • Perdagangan internasional kini tidak hanya dipandang sebagai instrumen efisiensi ekonomi, tetapi juga bagian dari strategi negara dalam melindungi kepentingan nasional dan keamanan ekonomi. Menguatnya nasionalisme ekonomi, proteksionisme, dan economic statecraft, termasuk perang dagang AS–Tiongkok, memunculkan pertanyaan mendasar: apakah perdagangan bebas sedang mengalami kemunduran, atau justru bertransformasi menjadi sistem yang semakin selektif dan strategis?

Di tengah perubahan tersebut, relevansi dan kapasitas WTO dalam menjaga sistem perdagangan multilateral berbasis aturan ikut dipertanyakan, terutama bagi negara berkembang seperti Indonesia yang membutuhkan ruang kebijakan (policy space) untuk pembangunan. 

Kegiatan dialog publik ini diselenggarakan oleh Fakultas HI Universitas Diponegoro bekerja sama dengan Koalisi Masyarakat Sipil untuk Keadilan Ekonomi (MKE), diharapkan dapat menjadi ruang diskusi kritis bagi akademisi, praktisi, dan masyarakat sipil untuk membahas isu tersebut.

Dengan ini kami mengundang Bapak/Ibu/rekan-rekan anggota Koalisi MKE untuk hadir pada:

📌 *Dialog Publik: Perdagangan Bebas di Persimpangan Jalan: Kebangkitan Nasionalisme Ekonomi dan Masa Depan WTO*
🗓️ Hari/Tanggal: Rabu, 21 Oktober 2026
⏰ Waktu: 13.00 WIB - selesai
📍 Tempat: Ruang Teater, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Diponegoro, Semarang

Terima kasih atas perhatian dan kehadirannya.

#KoalisiMKE #KeadilanEkonomi #UniversitasDiponegoro #UNDIP #AkademisiDanMasyarakatSipil
  • Here are a few glimpses of resistance from around the world.
ISDS threatens public policy space, social justice, and environmental protection. Let’s unite our voices during the **Global Action Days Against ISDS!*

#IsdsOutClimateJusticeIn #ISDSThreatensOurPlanet #ClimateJustice #StopISDS #ISDSfree

@pwypindonesia @resourcejusticenetwork @thirdworldnetwork @publicservicesinternational @lciti.fhui @pacificnetworkonglobalisation @aftinet @focussouth @bilaterals_org @powershift_ev
  • ISDS THREATENS OUR PLANET – PART 5

Video 5 - ISDS Attacks the Marine Environment 

Getting paid billions without even mining? Welcome to the reality of ISDS. ☣️

Even when governments enforce international marine protections—like UNCLOS—foreign investors can use complex corporate web structures to sue for "lost future profits". 🤯🙄

Corporations can extract millions from public coffers simply because a country chooses to protect its ocean. 🌊 

We can NOT allow secretive trade mechanisms to exploit our oceans and public money.

Join us to fight against corporate power through www.stopsids.global

Stay tuned for the next parts as we reveal how ISDS threatens our planet!

#IsdsOutClimateJusticeIn #ISDSThreatensOurPlanet #ClimateJustice #StopISDS #ISDSfree

@pwypindonesia @resourcejusticenetwork @thirdworldnetwork @publicservicesinternational @lciti.fhui @pacificnetworkonglobalisation @aftinet @focussouth @bilaterals_org @powershift_ev
  • ISDS THREATENS OUR PLANET – PART 4

Is it possible to stop ISDS? ⛓️‍💥⛔️

Absolutely—and countries are already doing it! 🌍

From Indonesia and India terminated outdated bilateral investment treaties, to Germany exiting the Energy Charter Treaty, governments worldwide are realizing the danger of corporate courts. 😵✊🏽

Our Governments must STOP fearing corporate scaremongering.

Evidence shows foreign investment relies on resources, market size, and infrastructure—not ISDS clauses.

We call on governments to stand firm, exit toxic investment treaties, and protect national policy space! 🚨

Join us to fight against corporate power through www.stopsids.global

Stay tuned for the next parts as we reveal how ISDS threatens our planet!
#IsdsOutClimateJusticeIn #ISDSThreatensOurPlanet #ClimateJustice #StopISDS #ISDSfree

@pwypindonesia @resourcejusticenetwork @thirdworldnetwork @publicservicesinternational @lciti.fhui  @pacificnetworkonglobalisation @aftinet @focussouth @bilaterals_org @powershift_ev
  • ISDS THREATENS OUR PLANET – PART 3

Resource sovereignty is under attack. 🛘‼️

As the race for critical minerals speeds up, Global South countries are facing the risks of ISDS.

When Governments enact raw material export bans, enforce local processing, or protect indigenous lands, multinational corporations use ISDS to sue for billions of US dollars. 💸 

In countries like Indonesia and the Philippines, these corporate threats hold indigenous rights, environmental protections, and national policies hostage. 😵

Therefore, we demand an end to investment treaties with ISDS permanently and prioritize community rights over corporate greed! 🫵🏼✊🏽

Join us to fight against corporate power through www.stopsids.global

Stay tuned for the next parts as we reveal how ISDS threatens our planet!

#IsdsOutClimateJusticeIn #ISDSThreatensOurPlanet #ClimateJustice #StopISDS #ISDSfree

@pwypindonesia @resourcejusticenetwork @thirdworldnetwork @publicservicesinternational @lciti.fhui  @pacificnetworkonglobalisation @aftinet @focussouth @bilaterals_org @powershift_ev
  • ISDS THREATENS OUR PLANET – PART 2

ISDS Attacks Tax Justice 

Who pays the price when your Government is being sued through ISDS? YOU do. 💸😰

Fossil fuel corporations often seek tax avoidance, when Governments ask for them to pay–they’re threatened with ISDS claims.

When corporations use ISDS to attack national policies, Government budgets take a massive hit.

Losing an ISDS case or even paying high-powered legal teams to defend against one, drains public funds that belong to the people. 💰👥

Fewer public funds means reduced budget for important public services such as healthcare, education, and social security programs. ⛓️‍💥📉

ISDS doesn’t just protect investors but it actively steals communities of their rights to public services. 🥷

Join us to fight against corporate power through www.stopsids.global

Stay tuned for the next parts as we reveal how ISDS threatens our planet!

#IsdsOutClimateJusticeIn #ISDSThreatensOurPlanet #ClimateJustice #StopISDS #ISDSfree

IsdsOutClimateJusticeIn ISDSThreatensOurPlanet ClimateJustice StopISDS ISDSfree 

@pwypindonesia @resourcejusticenetwork @thirdworldnetwork @publicservicesinternational @lciti.fhui @pacificnetworkonglobalisation @aftinet @focussouth @bilaterals_org @powershift_ev
  • ISDS Threatens Our Planet - Part 1

ISDS Attacks Coal Phase Out

How are corporate courts blocking urgent climate action? ⚠️🌏
Imagine a mechanism where Governments are chilled from taking robust climate actions out of fear from getting sued by corporations.

Yes, the mechanism is called Investor-State Dispute Settlement (ISDS). It allows foreign corporations to sue governments in secret tribunals for billions of dollars whenever public policies ”threaten” their future profits. 🤯🤬

Clive Palmer’s case against Australia shows us that ISDS is being weaponized to delay coal phase-outs and evade democratic accountability.
When corporations can hold climate policy hostage, taxpayers end up paying the price. 

In pushing for an ISDS-free world, we join the global movement on the global days of action against ISDS. 

Join us to fight against corporate power through www.stopsids.global

Stay tuned for the next parts as we reveal how ISDS threatens our planet!

#IsdsOutClimateJusticeIn #ISDSThreatensOurPlanet #ClimateJustice #StopISDS #ISDSfree 

@pwypindonesia @resourcejusticenetwork @thirdworldnetwork @psiglobalunion @lciti.ui @pacificnetworkonglobalisation @aftinet @focussouth @bilaterals_org @powershift_ev

© 2022 - Sahita Institute

  • Facebook
  • Twitter
  • Instagram
No Result
View All Result
  • Home
  • About Us
  • Campaign
    • Trade Justice
    • Digital Justice
    • Energy Transtition
  • Collective Idea
    • Visual Movement
    • Article
  • News
  • Publication

© 2022 Sahita Institute